aku komunis, memang kenapa?
Baru saja aku melalui sebuah papan bertuliskan “Posko Gerakan Anti Komunis”. Ini bukan pertama kalinya aku menyaksikan sebuah harmonisasi kehidupan Indonesia saat ini. Sangat cepat sekali aku harus menyatakan aku membenci dia karena dia tak sepaham dengan aku.
Mungkin belum terlalu lama juga berlalu ketika buku-buku yang katanya beraliran kiri di’jarah’ dan dibakar dari tempat-tempat penjualan buku. Juga ketika kalangan mahasiswa yang membentuk perlawanan terhadap gambar che Guevara. Atau ketika jamaah Islamiyah yang dicap oleh negara utara sebagai teroris, maka sontak membuat banyak orang menyatakan membenci mereka.
Terkadang banyak hal yang sudah tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam aras pemikiran sehat. Semua akhirnya bermuara pada bilangan aku suka dan aku benci. Masih sangatlah jauh untuk melihat yang berada pada kisaran aku suka dan aku tak benci. Kaidah nilai sesungguhnya telah dihilangkan dalam sebuah perjalanan napas kehidupan. Berada dalam sebuah kefatamorganaan, dan juga dalam sebuah permukaan keping mata uang.
Ironis juga ketika menyaksikan deretan buku bertuliskan perdamaian, silaturrahmi, persaudaraan, kesetaraan, hingga juga begitu banyaknya audio dan video yang menyuarakan kebersamaan. Hilir mudik pergerakan manusia telah menghilangkan sebuah nilai nurani dan jiwa yang menjadi ruang yang seharusnya. Kontak sosial telah menjadikan manusia berada dalam kamar yang bersekat, serta tanpa pintu dan jendela.
Tak ada yang salah dalam perputaran bola dunia. Tak ada yang berbeda dalam kecepatan aliran air di permukaan bumi. Tak ada yang berubah dalam wujud angin yang menerpa pepohonan. Semua belum berubah. Hanya nurani dan jiwa manusia yang berubah. Hanya itu.
Agama yang katanya sebuah pondasi bagi jiwa, ternyata hanya menjadi hiasan aura batin. Ideologi yang katanya sebuah pijakan keinginan, ternyata hanya menjadi tongkat pembunuh. Telah tercangkok dalam akal pikiran sebuah nilai bahwa aku boleh bertahan hidup, sedang dirimu tak boleh. Telah tertanam dalam hati sebuah nilai bahwa hanya akulah yang tak memiliki larangan, sedang dirimu harus dalam genggamanku.
Kadang yang terlintas hanyalah bagaimana aku bisa memanfaatkan dirimu agar aku bisa berada terus dipermukaan aliran sungai walau aku tak mampu untuk berenang. Kadang yang menggantung hanyalah bagaimana aku bisa menguras hakmu agar aku bisa terpuaskan nafsuku. Kadang yang terjadi hanyalah bagaimana aku bisa hidup tidak dengan dirimu, karena aku tidak pernah merasa dirimu berguna bagiku.
Derai air mata, curahan keringat, tetesan darah segar bukanlah sebuah halangan bagi pergulatan kehidupan. Ketika agama dan ideologi menjadi tameng, semuanya hanya akan menjadi musik penghibur. Ketika agama dan ideologi hanya kemunafikan, semuanya hanya akan menjadi tarian erotisme.
Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah bosan untuk saling berkata benci. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah lelah untuk saling berkata perang. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah kehabisan keringat, air mata dan darah.
Kalau aku memang komunis, memangnya kenapa? Apakah aku tak boleh untuk menikmati ruang hidup yang telah diberikan oleh yang memberiku aliran ruh kehidupan? Apakah dunia ini bukan sebuah tempat bagi aku yang telah memilih diriku sebagai komunis? Apa yang salah dengan komunis, selain ia telah divonis bersalah oleh manusia yang sebenarnya tidak punya hak untuk memberikan vonis.
[ timpakul :: tpu.031206.1851 ]
ketika aku tak tahu besok aku harus makan apa
Waktu di laptopku sudah menunjukkan lewat tengah malam. Namun kawanku belum enggan untuk berhenti bercerita tentang sebuah kegundahan jiwa dalam memaknai sebuah kematian kehidupan bergerakan.
Sangat banyak kawannya yang semakin hari semakin enggan untuk berbicara gerakan. Semakin hari semakin enggan berbicara revolusi. Entah apa yang membuat hal tersebut harus terjadi, namun hal tersebut telah terjadi.
Dari sebuah gerakan perlawanan, menjadi sebuah perjalanan hidup dengan merangkak. Dari sebuah gerakan pemberontakan, menjadi sebuah pemenuhan isi perut. Dari sebuah perjuangan, menjadi sebuah kebertahanan untuk tetap dapat melihat suramnya dunia.
Tak banyak pihak yang sempat memikirkan seperti apa yang dipikirkan oleh kawanku ini. Aktivis yang telah tumbuh banyak di negeri ini akhirnya satu persatu berguguran setelah harus kembali pada dunia nyata, dimana perut tak mungkin diisi dengan ideologis, dimana badan tak mungkin berbaju surat protes, dan anak tak mungkin hidup beratapkan perjuangan.
Ini mungkin adalah hal yang terlalu sering dilupakan. Kembali melihat pada realita kehidupan dimana hidup tak akan pernah berhenti untuk menunggu lahirnya kesempatan baru. Roda kehidupan terus bergulir diantara cepatnya perputaran otak dan peredaran amarah jiwa. Mungkin tak akan ada yang sanggup dengan sebuah laju perubahan yang terjadi dalam dunia nyata yang katanya fana ini.
Otakku semakin tak mampu berpikir setelah sekian lama berada dalam sebuah kotak sempit tak berujung. Dalam sebuah labirin tak jelas arah. Sekian lama aku coba uraikan pertanyaan yang terlontar oleh kawanku ini. Bukan hanya saat ini, jauh sebelum aku menentukan bahwa aku harus melakukan sesuatu agar ada sebuah kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya. Aku juga telah cukup lama mengabaikan hal tersebut, aku tak pernah mau terseret dalam alur hidup, namun ternyata telah banyak yang terhanyut di dalam derasnya aliran kehidupan.
Aku coba menjelajah dalam ruang tak bersekat untuk melihat arah mana dalam labirin jiwaku yang harus aku tempuhi. Menjauh dari permukaan kehidupan yang jelas-jelas tak pernah diketahui apa yang akan terjadi esok hari. Meninggalkan ruang hati yang terkungkung kemunafikan hidup. Aku selalu mencoba untuk lari dari sebuah jalan yang sebenarnya menampakkan kemeriahan kehidupan. Hingga aku juga belum temukan sebuah jawab atas tanya kawanku tadi.
Kita harus berjuang, kita harus melawan, kita harus berani teriak lawan. Jangan pernah berhenti berjuang. Libas semua lawan didepan. Teruslah berjuang. Bersatulah rakyat, kita pasti menang. Usir pengusaha. Enyahkan kapitalis. Tolak privatisasi.
Ah.. semua adalah kesemuan. Ketika harus kembali mendarat pada kehidupan, semuanya adalah kepalsuan. Revolusi, reformasi, pemberontakan, advokasi, dan sejuta hal dalam melawan kekuasaan, hanyalah sebuah kata semu yang tak pernah mampu memberikan ruang hidup pada makhluk kecil yang membahagiakan jiwa.
Apa yang sebenarnya ingin diraih? Kemerdekaan? Kesejahteraan? Kebahagiaan? Kemandirian? Atau apa? Semua hanyalah riasan pikiran yang dilakukan untuk mempertahankan hidup. Aku sendiri belum pernah mampu mengatakan diriku mampu untuk berdiri diatas kakiku sendiri. Semua berlaku seperti yang selama ini lawan lakukan. Tak pernah ada sebuah kata pasti dalam aliran hidup ini.
Apakah benar tak ada jawab atas semua? Aku ragu dengan ini. Aku masih yakin ada sebuah jawab dalam melihat dimensi lain sebuah perjuangan. Aku masih tetap berketetapan bahwa jawab itu pasti ada. Hanya tinggal kemenerimaan akal saja yang kadang menghalangi hadirnya sebuah jawab.
Jiwa dan nurani telah tergadaikan selama berada dalam sebuah kotak hitam yang penuh dengan labirin kepalsuan ini. Haruskah berjuang untuk orang lain, disaat jiwa tak mampu berjuang untuk asa dan hidup sendiri? Mungkin hanya satu jawab, aku harus berhenti berkata bahwa aku sedang berjuang untuk mereka, karena aku hanyalah berjuang untuk diriku sendiri.
[ timpakul :: tpu.031206.1816 ]
3 Desember 2003
3 Desember 2003