kami hanya menjalankan perintah
semua sesuai dengan peraturan
hukum harus ditegakkan
jangan pernah melawan
yang tidak setuju akan ditangkap
lihat kumisku ini
menyeramkan bukan?
lihat sepatu larasku ini
menyakitkan bila terkena tubuhmu
lihat kepal tanganku ini
mememarkan wajahmu dalam sekejap
lihat senjataku ini
menembus otak bodohmu
lihat pangkatku ini
memenjarakan jiwa pemberontakmu
ini perintah
kami hanya menjalankan perintah
runtuh tanah impian
fajar fitri belum terbenamnya
tiga ratus anjing ceking telah mengais
ruang kecil tempat mencari hidup
kata maaf belum keringnya
satu pleton tikus tanah telah mengerat
bangunan tua tempat gantungkan mimpi
bahagia hati belum pudarnya
beringas kadal penguasa telah menjilat
pantat lintah setan kapital
dinding kokoh akan robohnya
remahkan pesan cinta
lupakan kata janji
kutu buku akan perginya
menjauh tanpa arah
berlayar tanpa biduk
pudar mentari cita
musnah aroma asa
runtuh tanah impian
di kaki penguasa
di ketiak pemodal
duka untuk tertindasnya pendidik
duka untuk dibungkamnya pahlawan sejati
:: duka mendalam atas digusurnya smp lima enam melawai jakarta
[ 20041117 ]
tawa malaikat kecil
ia berlari menyentuh boneka kecilnya
beruang hitam pekat tak terurus
digigitnya kaki kecil beruang hitam
tak meringis ia
celoteh tak beralur
lirik tak bertuju
malaikat kecil itupun
masih tetap tertawa
tak peduli
hari ini sudah tak lagi ada
segenggam beras untuk menjadi bubur
pengganjal lambung yang makin berontak
fitri tak lagi suci
pencucian dosa di tepian karang mumus
dengan deterjen keimanan
ditambah pewangi keikhlasan
busa mengambang diantara alir nafasnya
deru detak langkah memburu
berlari menghalau kegelisahan
tatap sayu antar kerinduan
pada sebuah aras jiwa
hati tetap bergelora
membungkus aib di jamban tua
ketika darah suci aliri hitam pekat karang mumus
di pagi akhir bulan ramadhan
fitri tak lagi suci
demi asa genggam sebutir ketupat
di hari kemenangannya
senja itu tak selalu jingga
sore ini di tepi karang mumus
sepasang timpakul bercanda di jamban tua
mentari senja mewarna di angkasa
tapi ia tak lagi jingga
warna telah pudarnya
tersisa hanya kelam
tanpa hadirkan bayang
sepasang timpakul masih bercanda di jamban tua
titik hujan menetes perlahan basahi tanah merah tepi karang mumus
tak ada lagi pepohonan yang selalu nantikan hadirnya
tak ada lagi seekor macaca tua yang berlindung dibawah tajuk rindangnya
mereka telah pergi
tinggalkan sepasang timpakul yang tetap asyik masyuk bercanda di jamban tua
sepasang timpakul semakin riang bercanda di jamban tua
walau mentari tak lagi berwarna jingga
walau tak lagi ada pepohonan di tepian
walau tak ada lagi teriak beringas macaca
ia tetap bercanda
hingga akhirnya mereka tak lagi bisa bercanda
karena karang mumus akan menjadi jalan kota
19 November 2004
19 November 2004
14 November 2004
