panjangnya sepuluh sentimeter
Panjangnya 10 sentimeter, dengan lebar 3-4 sentimeter. Panjang sungut mencapai 20 hingga 30 sentimeter,warna kehitaman, mengkilat, mata kecil memanjang…… inilah kecoa yang sangat dibanggakan oleh LIPI saat mereka temukan di wilayah karst di kutai timur…..
Kecoa itu kabarnya terbesar di dunia, hampir sama dengan jumlah desa di kaltim masih tertinggal (lebih dari 360). Saat ini, sang kecoa harus naik ke pohon karena banjir semakin meninggi di hulu mahakan yang menyebabkan warga tering terancam kelaparan… jalan samarinda-melak pun terputus…. sekolah dan pasar harus pindah ke bukit…. walau katanya kaltim akan jadi pusat lingkungan hidup regional…..
mungkin karena itu kaltim menawarkan 5 blok migas baru…. dan samarinda yang semakin miskin siap-siap membangun pltg senilai 1 triliun…
ini wajar… karena DPD masih miskin data sehingga tak mampu berbuat….
ah… mungkin harus menanti kehadiran dewa di derawan…
“kapitalisme” masih diperbincangkan…
“NGO akuntabel dan transparan” sebuah tanya
“Aktifis bersatulah menggalang kekuatan politik alternatif di Kaltim !” menunggu kata
“bersaudarakah kita?” menanti jawab
ps: aku kapitalis, memang kenapa?
[050409:18.21.28]
negeri sejuta bencana
negeri ini terbuai dalam bencana
negeri ini terlelap dalam kesengsaraan
negeri ini termimpi dalam kegelisahan
tsunami
gempa
banjir
korban
korban
korban
darah
tangis
air mata
tak sadar lagi cengkraman lintah menggeliat
diantara puing-puing kematian
tawa canda kegembiraan
bersahutan diatas perihnya kerinduan
dollar
euro
yen
melahirkan dosa baru
di negeri koruptor
di negeri sejuta bencana
:: kegelisahan diantara bencana dan belas kasihan kaum industrialis
aku terpaksa menjadi tikus
sebuah catatan pinggiran karang mumus
Aku terpaksa menjadi “tikus” yang terus menggerogoti uang rakyat. Berlimpahnya gelimangan rupiah, dollar bahkan euro telah memaksaku untuk menjadi seekor tikus. Aku berpikir lebih baik aku tidak bertopengkan kucing karena aku tak ingin menjadi seekor tikus yang munafik. Lebih baik aku menjadi jujur pada diriku, hidupku, dan nuraniku daripada aku harus selalu bertopengkan kebaikan untuk menggerogoti hak-hak mereka.
Setahun ini aku benar-benar selalu terpusingkan dengan semakin meningginya harga barang, bahkan segenggam beraspun sudah tak sanggup aku beli sehingga aku harus mengumpulkan ceceran beras di gudang bulog yang sudah hampir membusuk. Menimba ilmu? ah… itu basa-basi. Bagaimana mungkin aku bisa belajar dengan tenang di saat perut tak lagi berisi. Belum lagi bila harus mendengar caci petugas administrasi kampus yang selalu menagihkan uang SPP.
Ingin rasanya mengencangkan ikat pinggang, tapi apa daya ikat pinggangpun tak sanggup terbeli. Berteduh dari rintik hujan semakin sukar, karena tak lagi ada pohon rindang tempatku bermain dulu yang telah dilahap oleh kucing rakus dari tanah seberang. Belum lagi diriku harus bertahan dari dinginnya emperan toko yang telah menjadi sungai kecil. Walau kadang aku dapat membahagiakan diriku dengan sesekali berenang di kolam buatan bekas tambang emas atau batubara yang akupun tak tahu telah berapa banyak dollar mengalir ke kocek tuan tanah dari negeri seberang itu.
Menjadi tikus adalah bukan sebuah pilihan, karena pilihan lain adalah mengakhiri hidup seperti siswa SD di tanah Jawa yang malu karena tak mampu membayar uang sekolah. Aku belum cukup berani untuk itu. Aku pun tidak ingin menjadi seekor tikus gembul yang membuat badanku tak lagi mampu berlari. Aku hanya perlu untuk bisa tetap hidup. Aku hanya butuh untuk bisa tetap melangkah. Mencari ganjal perut di tempat sampah yang telah dipenuhi oleh racun pun tak apa kujalani, namun itu tak mungkin kuberikan pada mereka yang sangat aku sayangi. Aku tetap ingin mereka hidup dengan layaknya. Bisa makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima sempurna. Bisa punya baju baru yang bisa dipamerkan pada teman-teman mereka saat hari besar agama. Bisa tetap memegang selembar buku dan setangkai pensil untuk mencatatkan pelajaran yang tidak mungkin mampu diingat seluruhnya.
Dan aku juga tidak ingin menjadi tikus yang merugikan bagi saudaraku sedarah yang selama ini hidup berdampingan dengan aku. Terkadang aku muak dengan jargon-jargon kawan-kawanku yang selalu meneriakkan kesejahteraan, kebahagiaan, keceriaan. Mereka berteriak, tapi mereka juga menjadi seekor tikus besar. Menghisap darah saudaranya, menyikut hidup kerabatnya. Demi sebuah tegaknya dagu kehormatan diri. Sejatinya mereka bahkan tidak lagi cukup hanya menjadi tidak lapar, tapi mereka ingin tidur di tumpukan dollar.
Sesekali aku berhadap orang dari negeri seberang yang membawa berkarung-karung harta mau membagikan sekeping emas padaku. Saat mereka tiba mereka selalu bilang padaku, mereka ingin lestarikan pohon tua itu, mereka ingin agar saudara-saudaraku tidak lapar, mereka ingin agar negaraku menjadi lebih makmur. Senyatanya mereka sendiri yang menghabiskan berkarung-karung harta yang mereka bawa. Hanya serpihan dan debu harta merekalah yang sempat dirasakan kawan-kawanku. Setelah dahaga mereka tercukupkan, berlayarlah mereka ke pulau sebelah dan mengatakan pada majikannya bahwa mereka telah melakukan tugas dengan baik dan benar.
Lalu, salahkah bila aku menjadi seekor tikus yang mengerat remah-remah? Ataukah aku harus tidak lagi boleh berdiri tegak di tanah yang tergadaikan ini? Menjadi tikus, bukan kucing bertopeng tikus, adalah sebuah cita bagi diriku. Agar aku tetap dapat menyaksikan semua drama kemunafikan dengan mata kepalaku sendiri. Bukan dari dongeng klasik seperti yang selalu diperdengarkan oleh ibuku disaat aku masih belum mampu berdiri tegak di atas tanah yang telah tergadaikan ini.
Mungkin suatu saat aku tak lagi menjadi seekor tikus. Karena kucing telah bergeliat bangun dari tidur panjangnya setelah sekian lama dibius oleh aroma kemewahan yang dibawa oleh serigala putih dari negeri utara. Namun aku akan tetap menjadi tikus dan akan ajak saudaraku untuk menjadi tikus, mempersatukan para tikus untuk melawan serigala putih yang saat ini tengah berdiri dengan angkuhnya.
[050511]
:: sebuah coretan kecil terhadap banyaknya serigala berbulu domba disekitarku
12 Mei 2005
11 Mei 2005
11 Mei 2005