hanya kata

Posted On 11 Juni 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

mentarijiwa terbenam di ufuknya
memerah… menjingga… memudarnya
senyum bahagia bocah di tengah lautan
memendam kerinduan akan tarian pengetahuan
tawa penjelajah buih gelombang bersahutan
tak ada air mata menetes
menyatu rasa … bersama menjiwa
camar terbang rendahnya melahap makan akhir hari ini
bangau menggelayut mesra di sisi kuntul perak
nyanyian desir angin di sela mangrove
beri sedikit asa

[050611]
:: di atas laut kota industri

kampanye kematian

Posted On 11 Juni 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

air mata
isak tangis
tatap amarah

melangkah dengan perlahan
anak tercinta dalam pelukan
nafas terakhir terhembus dalam gerobak kecil
tak mampu rupiah di kantong memuaskan dokter

pagi cerah
nada-nada roda kereta bersahutan
gemuruh pekerja kota besar
geliat pedagang bagi secercah harap
tawa kelakar pelajar tak peduli mahalnya uang spp
anak tertua menyuap nasi terakhir hari ini

buai kampanye
teriak janji
desah impian

suara untuk seorang pemimpin negeri
segala untuk kesejahteraan
semua untuk kemiskinan
seluruh untuk pendidikan

bukan
untuk
seorang
pemulung
di
rimba
ibukota

[050607]
:: duka untuk saudara tercinta yang tak dihiraukan negara

aku hanya bekerja

Posted On 10 Juni 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

aku hanya bekerja
melangkah berdasarkan ruang
berlari menuju ketidakpastian

aku hanya bekerja
terbuai arus biduk
terkekang jeruji kemunafikan

ruang ketidakpastian
biduk kemunafikan

aku harus bekerja
terseret ikatan norma
menggelepar dalam kegelisahan

aku harus bekerja
meniti tangga sang waktu
menggapai senyum kebahagiaan

norma kegelisahan
waktu kebahagiaan

aku bekerja untuk siapa?

[050609]
:: untuk kegelisahan seorang kawan dalam seragam kerjanya