hanya kata
mentarijiwa terbenam di ufuknya
memerah… menjingga… memudarnya
senyum bahagia bocah di tengah lautan
memendam kerinduan akan tarian pengetahuan
tawa penjelajah buih gelombang bersahutan
tak ada air mata menetes
menyatu rasa … bersama menjiwa
camar terbang rendahnya melahap makan akhir hari ini
bangau menggelayut mesra di sisi kuntul perak
nyanyian desir angin di sela mangrove
beri sedikit asa
[050611]
:: di atas laut kota industri
kampanye kematian
air mata
isak tangis
tatap amarah
melangkah dengan perlahan
anak tercinta dalam pelukan
nafas terakhir terhembus dalam gerobak kecil
tak mampu rupiah di kantong memuaskan dokter
pagi cerah
nada-nada roda kereta bersahutan
gemuruh pekerja kota besar
geliat pedagang bagi secercah harap
tawa kelakar pelajar tak peduli mahalnya uang spp
anak tertua menyuap nasi terakhir hari ini
buai kampanye
teriak janji
desah impian
suara untuk seorang pemimpin negeri
segala untuk kesejahteraan
semua untuk kemiskinan
seluruh untuk pendidikan
bukan
untuk
seorang
pemulung
di
rimba
ibukota
[050607]
:: duka untuk saudara tercinta yang tak dihiraukan negara
aku hanya bekerja
aku hanya bekerja
melangkah berdasarkan ruang
berlari menuju ketidakpastian
aku hanya bekerja
terbuai arus biduk
terkekang jeruji kemunafikan
ruang ketidakpastian
biduk kemunafikan
aku harus bekerja
terseret ikatan norma
menggelepar dalam kegelisahan
aku harus bekerja
meniti tangga sang waktu
menggapai senyum kebahagiaan
norma kegelisahan
waktu kebahagiaan
aku bekerja untuk siapa?
[050609]
:: untuk kegelisahan seorang kawan dalam seragam kerjanya
11 Juni 2005
11 Juni 2005
10 Juni 2005