cerminku tak retak
udara pagi tak sesejuk hari kemarin
membaca berita yang tak sesejuk hari kemarin
menonton televisi yang tak lagi sejuk seperti hari kemarin
hanya putaran kipas angin kecil memberi sedikit kesejukan
aku liat pada cermin kecil di sudut ruang hampa
tak ada yang baru
masih terlihat jelas gurat kekerasan di sekeliling diriku
tangis kelaparan masih memecahkan kepiluan
jerit kematian masih membayang jelas diantara keping kehidupan
tak ada yang baru
cermin ini masih tetap cermin kecil
yang diam tak berkata
disaat saksikan aku sarapan dengan darah dan air mata seorang kawan
memantulkan cahaya pakaian yang aku peroleh dari belas kasihan mereka yang ambil tanah kehidupan seorang kawan
menunjukkan keindahan ruang rumah yang dibangun berpondasikan keringat seorang kawan
tak ada yang baru
ini hanya sekeping cermin kecil
yang belum ingin meretak
ah.. sudahlah aku harus beranjak
bekerja menjadi budak mereka
yang sedang menghisap darah
yang sedang memeras keringat
di negeri tanah berkehidupan seorang kawan
[050831]
:: untuk seorang kawan yang memerlukan sekeping cermin
merdekakah indonesia?
merdekakah indonesia?
saat mulut masih terbungkam
saat mata masih terbutakan
saat telinga masih tertulikan
merdekakah indonesia?
saat tanah masih terampaskan
saat kekayaan alam masih tergadaikan
saat manusia masih tertindaskan
merdekakah indonesia?
[050817]
:: telah enampuluh tahun indonesia memproklamasikan kemerdekaannya
31 Agustus 2005
17 Agustus 2005