harus berubah
harus berubah
mengikut matahari
terbuai angin
tersapu gelombang
terdampar dalam kegalauan
tak ada memilih
ruang hampa
rasa hanta
tatap kebutaan
ujar kebisuan
akal kebuntuan
menuju kepastian
:: adakah perubahan?
menjadi sosial-ist
dua coretan kecil yang mengingatkan diriku pada sebuah perjalanan kehidupan. dua coretan dari inspiritor (mungkin ini sebutan yang bagi penggagas inspirit). satu di milis sistem hutan kerakyatan oleh inspiritor dan satu di news aggregator website kota samarinda yang mengutip blog beliaunya.
coretan pertama tentang kembalikan uang kami di sebuah milis mengulas bagaimana saling tukar keahlian dengan menggunakan mata uang jam kerja. pemikiran radikal, menurut beliau. gagasan ini mencoba menarik kembali pada bagaimana kehidupan di masa lampau, dimana sistem tukar (barter) sangat dikenal dalam kehidupan, yang kemudian digantikan oleh peran uang oleh para penguasa (pemilik kuasa di permukaan bumi) yang menjadikan para pelaku ekonomi yang kuat akan menjadi berkuasa. interaksi sosial telah semakin hilang dalam kehidupan saat ini setelah hadirnya lembaran kertas yang dianggap sebagai penukar barang ataupun jasa.
coretan kedua, bagaimana tumpukan keresahan akibat diganggu rombongan calon walikota dan juga pelayanan publik di sebuah kota kecil di tepian karang mumus. sang inspiritor ini sangat merasa terganggunya kenyamanan berkehidupan dan berinteraksi di sebuah kota kecil ini. segalanya dapat berubah dengan kepentingan sesaat, baik kepentingan kekuasaan ataupun kepentingan selembar kertas bernama uang. interaksi sosial kembali hilang sesaat kepentingan calon penguasa dan kepentingan kertas penukar (uang) kembali diberlakukan.
interaksi sosial, aku juga melihat semakin dihilangkan dalam kemudahan teknologi. email, website, milis. pun dalam sistem uang. bank, atm, kartu kredit. hingga dalam sistem komunikasi. sms, telepon. di dalam menukarkan barang, swalayan, mall, supermarket, minimarket, pun telah mengurangi interaksi sosial antar mereka yang berkehidupan. hingga akhirnya pelayanan publik di berbagai sektor pun telah kehilangan interaksi sosialnya. belum lagi diperparah dengan sistem pendidikan yang menyebabkan setiap manusia kehilangan nilai sosial.
agak mengganggu memang, ketika berbicara interaksi sosial, yang bagi sebagian mereka yang belajar tentang sebuah nilai yang disepakati disebut agama, telah dianggap sebagai jalan kesesatan. pluralisme, komunisme, sosialis, kata yang telah dihilangkan dari kamus para pihak yang menyatakan memimpin sekelompok manusia yang beragama. interaksi sosial dimaknakan pada hubungan dalam satu kelompok, tidak dengan kelompok yang berbeda. perbedaan disampaikan sebagai ruang yang tidak dapat dibenarkan.
menikmati dunia sangat maya ini tanpa sebuah interaksi sosial, memang lebih menyenangkan. individualis, bebas nilai, dan yang terpenting, siapa yang bermodal, berkuasa, akan menjadi pemenang. sementara gagasan, wacana, pemikiran, ide, hanyalah sebuah mimpi yang tak penting untuk diwujudkan.
menjadi sosial-ist
dua coretan kecil yang mengingatkan diriku pada sebuah perjalanan kehidupan. dua coretan dari inspiritor (mungkin ini sebutan yang bagi penggagas inspirit). satu di milis sistem hutan kerakyatan oleh inspiriter dan satu di news aggregator website kota samarinda yang mengutip blog beliaunya.
coretan pertama tentang kembalikan uang kami di sebuah milis mengulas bagaimana saling tukar keahlian dengan menggunakan mata uang jam kerja. pemikiran radikal, menurut beliau. gagasan ini mencoba menarik kembali pada bagaimana kehidupan di masa lampau, dimana sistem tukar (barter) sangat dikenal dalam kehidupan, yang kemudian digantikan oleh peran uang oleh para penguasa (pemilik kuasa di permukaan bumi) yang menjadikan para pelaku ekonomi yang kuat akan menjadi berkuasa. interaksi sosial telah semakin hilang dalam kehidupan saat ini setelah hadirnya lembaran kertas yang dianggap sebagai penukar barang ataupun jasa.
coretan kedua, bagaimana tumpukan keresahan akibat diganggu rombongan calon walikota dan juga pelayanan publik di sebuah kota kecil di tepian karang mumus. sang inspiritor ini sangat merasa terganggunya kenyamanan berkehidupan dan berinteraksi di sebuah kota kecil ini. segalanya dapat berubah dengan kepentingan sesaat, baik kepentingan kekuasaan ataupun kepentingan selembar kertas bernama uang. interaksi sosial kembali hilang sesaat kepentingan calon penguasa dan kepentingan kertas penukar (uang) kembali diberlakukan.
interaksi sosial, aku juga melihat semakin dihilangkan dalam kemudahan teknologi. email, website, milis. pun dalam sistem uang. bank, atm, kartu kredit. hingga dalam sistem komunikasi. sms, telepon. di dalam menukarkan barang, swalayan, mall, supermarket, minimarket, pun telah mengurangi interaksi sosial antar mereka yang berkehidupan. hingga akhirnya pelayanan publik di berbagai sektor pun telah kehilangan interaksi sosialnya. belum lagi diperparah dengan sistem pendidikan yang menyebabkan setiap manusia kehilangan nilai sosial.
agak mengganggu memang, ketika berbicara interaksi sosial, yang bagi sebagian mereka yang belajar tentang sebuah nilai yang disepakati disebut agama, telah dianggap sebagai jalan kesesatan. pluralisme, komunisme, sosialis, kata yang telah dihilangkan dari kamus para pihak yang menyatakntial Raja, christened with Aryan features – the headhunters listened and pretty much stop headhuntin’ activities, at least as much as documented evidence (searchable by Google) tells us. This was around the early 1840’s. The white Raja’s name was James Brooke with an e; his historical nickname is “The White Raja of Sarawak“. The headhunters are referred to as the Iban Tribe (also known as ‘Sea Dayaks’)
20 September 2005
13 September 2005
13 September 2005