Pendidikan itu Hak, bukan Kewajiban !

Posted On 7 Juni 2006

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

Diantara perdebatan tentang sebuah moral di negeri ini, ada hal yang hingga saat ini hanya pada tingkat wacana, yakni PENDIDIKAN GRATIS BERKUALITAS. Walau sudah diamanatkan dalam UUD RI bahwa Pemerintah harus melakukan upaya-upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan melakukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, namun hingga saat ini masih sangat sedikit dukungan nyata pemerintah yang diberikan, baik dalam hal kebijakan maupun pendanaan.

Semakin seringnya guru bantu melakukan aksi agar dapat tetap bekerja sebagai guru, semakin banyaknya tayangan sekolah rusak dalam berbagai media, hingga bermunculannya gejala magis di beberapa sekolah dalam bulan terakhir, memperkuat penggejalaan bahwa pendidikan ternyata masih diabaikan.

Pendidikan itu Bisnis!

Saat ini, baik sekolah negeri (yang harusnya didanai oleh pemerintah) maupun sekolah swasta, bahkan hingga ke tingkat perguruan tinggi dan lembaga pendidikan non-formal, telah menawarkan kualitas pendidikan dengan disetarakan pada biaya pendidikan. Untuk sebuah sekolah plus setingkat SLTP saja, tidak kurang dibutuhkan biaya setara dengan pendidikan S2 di perguruan tinggi negeri.

Di sekolah negeri, dengan dalih ketiadaan biaya, semakin banyak gedung-gedung sekolah yang dibiarkan rubuh. Juga ketika angka ketidaklulusan semakin tinggi disaat ujian nasional, maka ketiadaan fasilitas pembelajaran menjadi sebuah alasan berulang.

Berbeda pada perguruan tinggi negeri, di saat pergeseran kebijakan perguruan tinggi yang akan mem-badan hukum milik negara-kan, menjadikan komersialisasi pendidikan semakin meningkat. Kualitas pendidik dan kurikulum pendidikan tidak pernah lagi terperhatikan. Malah semakin meningkat penggejalaan sebuah perguruan tinggi menjadi sebuah super mall yang menyediakan beragam gelar kesarjanaan maupun gelar magister.

Pendidikan Berkualitas itu Tidak Penting!

Arah pendidikan saat ini, sebagian besarnya menjerumuskan beragam sumberdaya manusia negeri ini ke arah penyeragaman dan menjadikan robot. Lingkar-lingkar kreatifitas dan daya pikir kritis telah dimatikan secara struktural. Kurikulum pendidikan dibuat untuk pemenuhan lapangan pekerjaan, yang sebagiannya adalah bernuansa penggerusan kekayaan alam.

Bidang-bidang pendidikan yang dipandang tidak lagi memiliki prospek pekerjaan semakin dijauhi. Keterampilan spesialis dan teknis menjadi sebuah primadona baru dalam dunia pendidikan saat ini. Keterampilan generalis dan kepemimpinan mulai termatikan di pendidikan formal, malah saat ini dikuasai oleh pelaksana pendidikan non-formal, yang sudah tentu tidak dengan biaya murah.

Kurikulum sebagai urat nadi kualitas lulusan sekolah maupun perguruan tinggi, sangat cepat berganti tanpa pernah dilakukan evaluasi menyeluruh berkaitan dengan kualitas yang dihasilkan. Kurikulum hanya sebuah efek mekanis yang akan menghasilkan otak mampu dikontrol dari satu titik, tanpa memberikan ruang berkembangnya kemampuan berpikir. Hanya 1% bagian otak yang digunakan dalam proses belajar di sekolah maupun di perguruan tinggi di Indonesia saat ini.

Pendidikan itu Kewajiban: Awal Kehancuran!

Penggiringan pendidikan anak negeri ke jurang kehancuran bermula pada meletakkan pendidikan sebagai sebuah kewajiban, sehingga tertancapkanlah pemikiran di seluruh keluarga di negeri ini bahwa pendidikan itu wajib. Dengan semakin banyaknya pihak yang berkewajiban menjalani proses pendidikan formal, maka ini menjadikan pendidikan sebagai sebuah arena bisnis. Bila saja penyedia jasa pendidikan semakin sedikit, maka penyedia jasa pendidikan dapat dengan berdasarkan keinginan sendiri untuk menentukan besarnya imbal jasa yang diberikan. Inilah awal sebuah bisnis pendidikan yang menjadikan pendidikan itu mahal.

Program wajib belajar 9 tahun pun menjadikan wilayah pendidikan dipaksakan ada, tanpa pernah memandang kualitas. Pendidikan pun kemudian dipandang sebagai sebuah kerangkeng baru bagi anak-anak, dikarenakan pola-pola pengajaran menjadi diseragamkan sepanjang kepulauan Nusantara ini. Pengembangan kurikulum dan pola pembelajaran kelokalan menjadi sangat sukar berkembang.

Kualitas pengajar pun dipaksakan untuk meningkat dengan sebuah kewajiban gelar kesarjanaan untuk mengajar. Padahal tidak ada hubungan yang erat antara gelar kesarjanaan dengan kualitas pengajar. Kualitas pengajar hanya akan bisa dihasilkan dari sebuah proses pembelajaran kritis dan kreatif para pengajar saat melakukan interaksi dengan siswa dan alam sekitarnya.

Pendidikan itu Hak!

Pendidikan adalah hak. Negara, dalam hal ini pemerintah, berkewajiban untuk memenuhkan hak dari setiap anak di negeri ini. Meletakkan pendidikan sebagai hak, memberikan sebuah beban bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi penerima hak. Kualitas pendidikan, bukan hanya kuantitasnya, wajib dipenuhi oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara.

Meletakkan pendidikan sebagai sebuah hak, ini juga memposisikan pendidikan sebagai sebuah kebutuhan bersama. Pendidikan bukan menjadi sebuah perdagangan jasa, namun menjadi sebuah solidaritas pemenuhan hak berkehidupan. Pemerintah sudah saatnya mengembalikan roh pendidikan pada wilayah asasi manusia. Pengaturan terhadap pengembangan bisnis pendidikan, penguatan kualitas lembaga pendidikan formal, serta membuka peluang keberagaman kurikulum menjadi mendesak untuk dilaksanakan.

Pendidikan sebagai sebuah hak, juga harus ditempatkan pada kebebasan berekspresi bagi anak dalam menjalani proses pendidikan. Tidak memisahkan dunia anak pada sebuah kotak tertutup bernama sekolah, serta menjadikan alam sekitar sebagai wahana pendidikan, merupakan sebuah hal yang menarik untuk terus dikembangkan.

Program-program Bantuan Operasional Sekolah, Komite Sekolah, hingga Kurikulum Berbasis Kompetensi, harus diperbaiki dengan mengedepankan komitmen baru, bahwa pendidikan adalah hak, bukan kewajiban. Skema ujian nasional pun harus diberangus agar para pendidik di berbagai wilayah negeri tidak berlomba melakukan penipuan berkelanjutan. Tumbuhkan kebersamaan membangun generasi negeri dengan menyatakan “PENDIDIKAN ITU HAK”. [060608]

jujur bernilai dua ratus ribu

Posted On 8 November 2005

Disimpan dalam celoteh

Comments Dropped leave a response

Karena anda jujur, anda mendapat hadiah dua ratus ribu rupiah [Jujur atau Nggak -TPI]

Sudah tahu berapa harga sebuah kejujuran. Sekian lama mencari nilai sebuah kejujuran, akhirnya dapat juga. Sore ini, di sebuah stasiun televisi swasta ada reality show “Jujur atau Nggak”. Sebuah acara yang menguji kejujuran seseorang. Bahkan ada adegan berantem juga. Yang menarik adalah nilai sebuah kejujuran. Tak seperti reality show lainnya yang memberi hadiah jutaan untuk sebuah kemiskinan atau keinginan pulang kampung, satu juta untuk sebuah pemberian pertolongan, bila anda jujur, maka anda akan memperoleh nilai yang lebih besar. dua ratus ribu rupiah. Ah.. ternyata segitulah takaran nilai sebuah kejujuran.

extravaganza

Posted On 7 November 2005

Disimpan dalam celoteh

Comments Dropped leave a response

sementara belum diupdate…. masih nonton extravaganza

acrhumor_af13.jpg

sayang kan kalo dilewatkan !

politik

Posted On 7 November 2005

Disimpan dalam celoteh

Comments Dropped leave a response

You are a
Social Moderate
(56% permissive)

and an…
Economic Liberal
(21% permissive)

You are best described as a:

Democrat

   
 


   
 

Link: The Politics Test on Ok Cupid
Also: The OkCupid Dating Persona Test

hasil ngetest

Posted On 7 November 2005

Disimpan dalam celoteh

Comments Dropped leave a response

The Boy Next Door
Random Gentle Love Dreamer (RGLDm)

Kind, yearning, playful, you are The Boy Next Door. You’re looking for real Love, a lot like girls do. It might not be manly, but it’s sweet.

We think the next three years will be very exciting and fruitful ones for you. Your spontaneous, creative side makes you a charming date, and we think you have a horny side just waiting to shine. Or glisten, rather. You enter new relationships unusually hopeful, and the first moments are especially glorious. If you’ve had some things not work out before, so what.

Your exact opposite:
The 5-Night Stand

Deliberate Brutal Sex Master

On paper, most girls would name the Boy Next Door as their ideal mate. In the real world, however, you’re often passed over for more dangerous or masculine men. You’re the typical “nice guy:” without just a touch of cockiness, you’re doomed with girls. A shoulder to cry on? Okay, sure. But never a penis to hold.

More than any other type, Boys Next Door evolve as they get older. As we said, many find true love, but some fail miserably in the search. These tarnished few grow up to be The Men Next Door, who are creepy as hell, offering backrubs to kids and what not.

ALWAYS AVOID: The Nymph

CONSIDER: The Maid of Honor, The Peach

Link: The 32-Type Dating Test by OkCupid – Free Online Dating.
My profile name: timpakul

di sebuah persimpangan

Posted On 3 November 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

dua puluh sembilan tahun lalu
matahari sepenggalahan
aku menghirup udara kota
di tepi karang mumus

dua puluh sembilan tahu lalu
pohon wanyi tegak
di pekarangan rumah kayu
di tepi karang mumus

dua puluh sembilan tahun lalu
anak timpakul bermain
diatas batang jamban kami
di tepi karang mumus

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
jerit memuji asma tuhan dikumandangkan
hari kemenangan bagi mereka
di sebuah kota kayu tua

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
aku belum bisa apa-apa
hanya belajar merangkak
di sebuah kota kayu tua

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
aku masih menetek
agar masih bisa berdiri
di sebuah kota kayu tua

hari ini
dua puluh sembilan tahun lalu
saat matahari sepenggalahan
seekor anak timpakul
  bersenggama dengan waktu
  menghirup udara kebersamaan
  mencicipi hidangan kejujuran
  melepas dahaga tetes kehidupan

hari ini
setelah dua puluh sembilan tahun
saat matahari sepenggalahan
seekor anak timpakul
  bersenggama dengan waktu
  menghirup udara kemunafikan
  mencicipi hidangan keangkuhan
  melepas dahaga tetes kematian

aku
seekor anak timpakul
:di sebuah persimpangan

[051103.0900]
::memaknai kehidupan setelah dua puluh sembilan tahun

di sebuah persimpangan

Posted On 3 November 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

dua puluh sembilan tahun lalu
matahari sepenggalahan
aku menghirup udara kota
di tepi karang mumus

dua puluh sembilan tahu lalu
pohon wanyi tegak
di pekarangan rumah kayu
di tepi karang mumus

dua puluh sembilan tahun lalu
anak timpakul bermain
diatas batang jamban kami
di tepi karang mumus

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
jerit memuji asma tuhan dikumandangkan
hari kemenangan bagi mereka
di sebuah kota kayu tua

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
aku belum bisa apa-apa
hanya belajar merangkak
di sebuah kota kayu tua

hari ini setelah dua puluh sembilan tahun
aku masih menetek
agar masih bisa berdiri
di sebuah kota kayu tua

hari ini
dua puluh sembilan tahun lalu
saat matahari sepenggalahan
seekor anak timpakul
bersenggama dengan waktu
menghirup udara kebersamaan
mencicipi hidangan kejujuran
melepas dahaga tetes kehidupan

hari ini
setelah dua puluh sembilan tahun
saat matahari sepenggalahan
seekor anak timpakul
bersenggama dengan waktu
menghirup udara kemunafikan
mencicipi hidangan keangkuhan
melepas dahaga tetes kematian

aku
seekor anak timpakul
:di sebuah persimpangan

[051103.0900]
::memaknai kehidupan setelah dua puluh sembilan tahun

penilaian sementara terhadap flock

Posted On 2 November 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

untuk saat ini flock masih lumayan bagus,

ringan, cepat, dan belum bermasalah.

Sebelum ini sudah install bermacam-macam firefox, yang bisa dipake cuma portable_firefox.

memang ini laptop udah pada error, jadinya hanya program tertentu yang bisa terinstall.

pake opera juga bermasalah, juga mozilla

jadinya kalau tidak pake netscape 7.2, pake portable_firefox, akhirnya ada pilihan flock.

kalau ie… udah lama nggak make… :-)

mencoba flock

Posted On 2 November 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

Lagi mencoba flock. Gimana juga makenya…. apa ada cara untuk nambah gambar ya? atau cuma seperti ini saja bisanya?

menapaki ruang hampa

Posted On 30 Oktober 2005

Disimpan dalam khayal

Comments Dropped leave a response

terlalu berat merangkak
diantara angkuhnya hutan mal
disela anak tikus yang mengais sisa sahur

ingin berjalan
mengarah pada ruang hampa
yang hilangkan beban jiwa

saatnya berlari
tinggalkan mimpi
:tuju kemapanan

[ 051016 : 14.30 ]
:: berpindah ke ruang http://timpakul.hijaubiru.org/

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »